Pertemuan program imuisasi dan surveilans pd3i
Post on 22 Januari 2024Jakarta, RSUD Kalideres menerima kunjungan dari kemenkes, dinas kesehatan DKI Jakarta, sudin kesehatan Jakarta Barat , WHO, ITAGI serta dinas kesehatan Kalimantan barat dalam rangka kegiatan evaluasi terhadap program imunisasi dan surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Adapun aspek yang akan dinilai meliputi manajemen program dan pembiayaan, manajemen SDM, kualitas serta penyediaan vaksin dan logistik, pelayanan imusisasi, cakupan imunisasi dan KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi), surveilans pd3i serta advokasi dan komunikasi. Imunisasi wajib dilakukan sejak anak lahir karena vaksin merupakan suatu tindakan kekebalan dan perlindungan terhadap infeksi, virus dan berbagai penyakit. beberapa penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi antara lain diftery, campak, dan AFP Berdasarkan data surveilans pd3i RSUD Kalideres, dari tahun 2016 hingga tahun 2019 laporan kasus penyakit terbanyak merupakan suspect difteri sebanyak 20 laporan dengan confirmed lab 0, kemudian diperingkat kedua adalah laporan kasus AFP sebanyak 13 laporan, diperingkat terakhir adalah laporan kasus penyakit campak rubella suspect sebanyak 1 laporan dengan confirmed lab 0. Melihat data pada penyakit yang di laporkan ke Website surveilans DINKES DKI selama periode Juli-Desember 2017, penyakit terbanyak yang terlaporkan adalah GED (gastroenteritis dan diare) sebanyak 139 kasus, Pneumonia sebanyak 88 kasus, dan Thypoid sebanyak 61 kasus. Sedangkan pada periode Januari hingga Desember 2018 penyakit terbanyak yang dilaporkan adalah GED sebanyak 194 kasus, DBD sebanyak 123 kasus, dan Febris/kejang sebanyak 111 kasus. Kemudian di periode Januari hingga Juli 2019 penyakit terbanyak yang dilaporkan adalah DBD sebanyak 390 kasus, GED sebanyak 112 kasus, dan Febris/kejang sebanyak 88 kasus. Berdasarkan data tersebut, penyakit GED masih menjadi penyakit dominan di Rumah Sakit Umum Daerah Kalideres. Merujuk pada data persebaran penyakit pd3i di wilayah kelurahan sekitar Kalideres, pada periode Juni hingga Desember 2017 sebanyak 95 kasus berasal dari kelurahan Pegadungan, kemudian 87 kasus berasal dari kelurahan Tegal Alur, 58 kasus berasal dari kelurahan Kalideres, 52 kasus berasal dari kelurahan Kamal, 29 kasus berasal dari kelurahan Semanan, sebanyak 27 kasus berasal dari Tangerang, dan 17 kasus berasal dari Cengkareng. Di periode Januari hingga Desember 2018, data persebaran penyakit terbanyak tersebar pada kelurahan Tegal Alur sebanyak 151 kasus, kelurahan Kamal sebanyak 126 kasus, kelurahan Pegadungan sebanyak 122 kasus, kelurahan Kalideres sebanyak 94 kasus, , kelurahan semanan sebanyak 43 kasus, dan berasal dari Tangerang sebanyak 46 kasus. Lalu di tahun 2019 bulan Januari hingga bulan Juli 2019, sebanyak 195 kasus berasal dari kelurahan tegal alur, 133 kasus dari kelurahan pegadungan, 97 kasus dari kelurahan kamal, sebanyak 93 kasus dari kelurahan Kalideres, 43 kasus dari kelurahan semanan, dan sebanyak 43 kasus dari tangerang. Berdasarkan data tersebut wilayah tegal alur memiliki kasus penyakit terbanyak dibandingkan kelurahan lainnya. Selain itu, berdasarkan golongan usia, pasien penyakit pd3i dengan rentang usia 0 sampai 1 tahun di tahun 2018 adalah yang terbanyak dengan jumlah 211 orang dibandingkan tahun 2017 dengan rentang usia yang sama sebanyak 160 orang. Lalu berdasarkan data penyaki pd3i diatas, merujuk pada data penyakit GED terbanyak terjadi di tahun 2018 dan paling tinggi kasusnya terjadi di kelurahan kamal. Penyakit pneumonia terbanyak terjadi di tahun 2018 serta paling tinggi kasusnya terjadi di kelurahan Pegadungan. Penyakit febris/kejang paling banyak terjadi di tahun 2018 denga kasus tinggi terjadi di kelurahan kamal dan kelurahan tegal alur. Kasus penyakit Thypoid terbanyak terjadi di tahun 2018 dengan angka tertinggi terjadi di kelurahan tegal alur, selanjutnya kasus DBD terbanyak terjadi di tahun 2019 dengan angka tertinggi terjadi di kelurahan tegal alur. Tingginya kasus dyftery dan AFP pada tahun 2017 dan 2018 karena belum terpapar pentingnya pemberian vaksin sejak bayi lahir. hal ini terlihat pada tahun 2017 sebagian besar terjadi pada usia anak 0 - 1 tahun. dan pada tahun 2018 sebagian besar kasus terjadi pada usia 5-14 tahun. hal ini sejalan dengan tingginya kasus GED pada tahun 2017 dan tahun 2018. hal ini dapat dilihat bahwa anak pada usia 0-1 tahun dan 5 - 14 tahun rentan terjangkit penyakit GED karena kekebalan tubuh yang menurun sehingga mudah terjangkit penyakit. Tahun 2019 penyakit tertinggi adalah kasus DBD. hal ini dapat dikaitkan dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang belum berjalan maksimal. sehingga perlu dilakukan penyuluhan terkait pentingnya vaksin sejak dini dan penerapan PHBS di lingkungan tempat tinggal.
Berita Lainnya
Jakarta - Setiap tanggal 8 April diperingati sebagai Hari Anak-Anak Balita Nasional.
Post On 2021-04-08 04:49:54
Kanker merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh kelainan pertumbuhan sel tubuh
Post On 2021-02-15 07:51:25
Tahukah anda telinga merupakan organ pendengaran dan fungsi keseimbangan tubuh
Post On 2021-03-03 07:41:15